Saturday, October 24, 2015

tiada yang ada

saat ini kamu sedang duduk di teras menikmati indahnya hari dengan menghirup udara segar tanpa kabut asap menutupi mata. semburat matahari senja menambah kenikmatan suasana, menelisik sela sela tanaman hias. kamu tersenyum, bukan karna menatap cahaya mempesona itu, lebih karna menatap sepasang kupu-kupu sedang menari. hal kecil yang kamu dapat dari tanah perjuangan. di temani secangkir kopi hitam dengan penuh kehangatan, sungguh sangat nyaman rasanya. dalam buaian kenyamanan itu, tak sengaja terbesit untuk membuat tulisan di blog ini. kamu membuka note di hp untuk melihat apa yang menurut kamu cocok untuk di post kan.
setelah memakan waktu sedikit lama, kamu akhirnya memutuskan tulisan berjudul tiada yang ada di note hp, judul dari tulisan itu sebenarnya tak ada hubungannya, hanya sebagai penanda tulisan kamu.

kekasih di bawah rembulan

terusik tenang malam pun terasa semakin panjang
ketika rindu kembali bertandang
sulit dibawa pejam
kantuk mata ini selalu terganjal bening wajahmu dikala malam.

mengasah rindu menyebut namamu
merasakan hadir dalam diriku
dari senja tiba hingga embun pagi
tiada ku rindu selain cinta.
sampai napas di ujung kepala.

oh, kekasih.
jangan tempatkan aku dalam pengabaian
sungguh cinta yang tertuju padamu ini
lebih gigil dari sapuan angin yang mendekap hujan
bahkan lebih dari itu
membungkap mulut tuk berkata
hanya tetesan air mata yang memantulkan sinar rembulan
membasuh gersangnya hati
hanya untuk sebuah penantian panjang

-FRP

puisi untuk sang kekasih ini terinspirasi dari sujiwo tejo. adalah seorang dalang, yang juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan bahkan disebut seorang budayawan. dalam kata kata cinta nya untuk sang kekasih, dia memainkan kata-kata untuk menghasilkan presepsi yang berbeda beda. sungguh kamu terpesona melihat rangkaian kata-kata tersebut. 

tahukah kau manusia paling tak berperasaan di muka bumi? dia yang jauh dari kekasih saat hujan tapi tak ia tulis satupun puisi.-sujiwo tejo

itu lah salah satu kata-kata sujiwo tejo, dalam kata-kata tersebut kamu mengartikan kekasih yang dimaksud nya itu adalah tuhan, dan puisi adalah doa.
cukup menggelikan karna kata indah itu bukan di tujukan kepada manusia.

tiba-tiba, kamu mendengar alunan merdu melintas masuk kedalam telinga, menenangkan hati, menggerakan kaki melangkah memasuki singgasana. untuk menikmati waktu dalam kedamaian dan ketenangan jiwa. membawa kamu berkelana sejenak meninggalkan hal duniawi demi sang kekasih
kamu pun langsung mengakhiri tulisan ini dengan kata: 

Sekian!!